Ruwat Rawat, Ritual Lestarikan Kearifan Lokal Alam di Lereng Merapi

- 28 Mei 2022, 23:37 WIB
Gunungan haslil bumi dibawa serta dalam ritual Ruwat Rawat di Dusun Wonosegoro, Desa dan Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali
Gunungan haslil bumi dibawa serta dalam ritual Ruwat Rawat di Dusun Wonosegoro, Desa dan Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali /Dok SMSolo/

KARANGANYARNEWS – Bermaksud menjaga sekaligus melestarikan kearifan lokal, warga lereng Gunung Merapi – Merbabu menggelar ritual Ruwat Rawat.

Kearifan lokal yang dimaksud warga setempat, berupa keselarasan hubungan antara manusia dengan alam semesta dan budaya warisan nenek moyangnya.

Ritual yang berlangsung di komplek pemakaman Dusun Wonosegoro, Desa dan Kecamatan Cemogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, ini diawali kirab aneka hasil bumi dari pelataran makam hingga bagian atas makam.

Baca Juga: Keren, Pacul Goweng Khas Lereng Merapi Merbabu Raih Predikat Kekayaan Budaya Takbenda

Selain itu, perwakilan budayawan juga melakukan ritual di Prasasti Sarungga, berada tak jauh dari makam. Dalam kirab ini, warga turut membawa aneka hasil bumi. Diantaranya ada juga gunungan hasil bumi, dipikul empat orang. 

Ritual Ruwat Rawat juga dimeriahkan pentas seni rodat, campur bawur dan jangkrik ngenthir yang kini kian langka dan hampir punah di daerah tersebut.

Kegiatan yang berlangsung sore hari ini, juga mendapat perhatian masyarakat sekitar maupun masyarakat dari daerah lain.

Baca Juga: Taman Nasional Merapi-Merbabu Hantarkan Ganjar Terima Trisakti Tourism Award 2021

Ritual Ruwat Rawat yang digelar Boyolali Heritage Society (BHS) bersama pemberhati budaya setempat ini, dimaksud juga agar masyarakat lebih mengenal tingginya budaya di kawasan timur lereng Gunung Merapi – Merbabu, termasuk diantaranya kawasan Kecamatan Cepogo.

Ketua Boyolali Heritage Society (BHS), Kusworo menjelaskan ritual Ruwat Rawat lebih diutamakan teruntuk Prasasti Sarungga, kerap disebut juga Prasasti Wonosegoro.

Prasasti ini terletak di ladang milik warga Dusun Wonosegoro, Desa dan Kecamatan Cepogo. Pihaknya, pernah juga menggandeng mahasiswa arkeologi UGM untuk membantu alih aksara.

Baca Juga: Inovatif, Piket Siaga Erupsi Gunung Merapi Sambil Jaga Kedai Kopi

“Dalam penelitian tersebut dijelaskan Prasasti ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno. Ada empat baris, sayangnya bait terakhir sudah tidak dapat terbaca,” kata Kusworo kepada awak media. ***

Editor: Kustawa Esye


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x