Fenomena Antariksa Langka Bakal Terjadi pada 14 Juni 2022

- 12 Juni 2022, 21:25 WIB
Fenomena bulan stroberi akan muncul pada pertengahan Juni 2022
Fenomena bulan stroberi akan muncul pada pertengahan Juni 2022 /Molly Roselle/Pixabay

KARANGANYARNEWS - Fenomena antariksa yang cukup langka akan terjadi pada pada 14 Juni sampai 14 Juli 2022.

Hal ini seperti yang diungkap Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menyebut bahwa masyarakat dapat menyaksikan tiga fenomena, yaitu purnama stroberi super, bulan baru stroberi mikro dan purnama rusa super pada 14 Juni sampai 14 Juli 2022.

"Purnama stroberi super merupakan purnama yang terjadi di bulan Juni. Sedangkan purnama rusa super adalah purnama yang terjadi pada bulan Juli. Definisi ini juga dipakai untuk fase bulan baru,"kata peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Andi Pangerang seperti dikutip dari Antara, pada Minggu 12 Juni 2022.

Baca Juga: Fenomena Bulan Hitam Akhir Mei. BRIN Imbau Masyarakat Waspada. Kenapa..?

Seperti pada fase bulan baru pada umumnya, purnama stroberi super, bulan baru stroberi mikro dan purnama rusa super dapat menimbulkan pasang laut yang lebih tinggi dibandingkan dengan hari-hari biasanya.

Adanya konfigurasi matahari-bumi-bulan atau bisa juga matahari-bulan-bumi yang berada di posisi segaris membuat timbulnya pasang yang lebih besar.

Apalagi konfigurasi itu juga diperkuat dengan bulan yang berada di titik terdekatnya dengan bumi.

Pasang laut tertinggi akan terjadi pada 14 Juni 2022 dan 14 Juli 2022, sehingga disarankan bagi nelayan untuk tidak melaut di dua hari sebelum dan dua hari sesudah puncak fenomena itu, yakni antara 12 hingga 16 Juni 2022, dan 12 hingga 16 Juli 2022.

Baca Juga: Wow..! China Lepas 3 Astronaut Bersama Shenzhou-14 untuk Jalankan Misi Ini di Luar Angkasa

"Perhitungan ini hanya mempertimbangkan faktor astronomis saja tanpa melihat gelombang laut akibat badai angin," ujar Andi.

Ia mengatakan pasang laut pada 29 Juni 2022 secara astronomis juga perlu dipertimbangkan. Gaya pasang laut saat bulan baru mikro adalah sebesar 52 persen dari gaya pasang laut saat bulan perbani super.

Sehingga perlu diwaspadai pasang laut tersebut antara dua hari sebelum dan dua hari sesudah puncak fenomena itu, yakni antara 27 Juni 2022 hingga 1 Juli 2022.

Purnama stroberi super akan terjadi pada 14 Juni 2022 pukul 18.51 WIB/19.51 Wita/20.51 WIT pada jarak 357.368 kilometer (km). Sedangkan bulan baru stroberi mikro akan terjadi pada 29 Juni 2022 pukul 09.52 WIB/10.52 WITA/11.52 WIT pada jarak 406.569 km.

Baca Juga: Keistimewaan Bulan Syawal dan Serangkaian Tradisi yang Menyertainya

Purnama rusa super akan terjadi pada 14 Juli 2022 pukul 01.57 WIB/02.57 Wita/03.57 WIT pada jarak 357.418 km.

Bulan baru stroberi mikro tidak dapat disaksikan sebelum matahari terbit, karena terbitnya yang lebih lambat dibandingkan matahari dan permukaan bulan yang menghadap bumi tidak terkena cahaya matahari sehingga tampak gelap.

"Untuk menyaksikan fenomena ini, masyarakat cukup arahkan pandangan sesuai arah terbit hingga terbenamnya bulan pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Fenomena ini bisa diamati tanpa perlu bantuan alat optik apapun, kecuali jika ingin mengabadikannya dalam bentuk foto ataupun video," tuturnya.

Andi menuturkan penamaan tiga fenomena antariksa itu berasal dari Almanak Petani Amerika (The Farmer’s Almanac). Pada Juni dilakukan panen stroberi, sedangkan pada Juli rusa jantan muda mulai tumbuh tanduknya.

Baca Juga: Gelombang Setinggi 6 Meter Bayangi Laut Selatan Jawa. BMKG: Waspada..!

"Jadi penamaan ini sebenarnya berasal dari penanda musim dan perilaku hewan yang timbul pada musim-musim tertentu bagi penduduk asli Amerika," ujar Andi.

Andi menuturkan purnama kali ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan bulan purnama super atau yang disebut purnama perige m. Sedangkan untuk bulan baru stroberi bertepatan dengan bulan baru mikro atau bulan baru apoge.

Ia menuturkan bulan baru mikro kali ini diapit oleh dua bulan purnama super yang terjadi pada dua bulan berturut-turut. Fenomena itu terakhir kali terjadi pada 2004 dan 2013.

Dengan demikian, fenomena tersebut terjadi setiap sembilan tahun sekali, sehingga fenomena itu akan terjadi kembali pada 2031 dan 2040.***

Editor: Andi Penowo


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah