Misteri Omah Demit Bukit Patrum, Nampak Jelas Tapi Tak Tersentuh

- 5 Maret 2022, 20:15 WIB
Omah Demit di Bukit Patrum Dusun Mojo Pereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, nampak jelas tapi tak mungkin dapat disentuhnya
Omah Demit di Bukit Patrum Dusun Mojo Pereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, nampak jelas tapi tak mungkin dapat disentuhnya /Humas Pemkab Klaten/

KARANGANYARNEWS -  Jangankan malam hari yang tiada penerangannya, siang hari pun tak dapat tersentuh walau wujudnya nampak jelas.

Letaknya memang di atas bukit, tak ada bangunan lain kecuali satu rumah yang berukuran tak lebih 2 x2 meter ini. Lebih terkesan menyeramkan lagi, diceritakan warga sering ada penampakan dan suara-suara aneh dari rumah ini.

Sejak sekian generasi, sebutannya memang sudah menyeramkan. Masyarakat di sekitarnya, menamakan Omah Demit atau Rumah Hantu, terjemahan bahasa Indonesaianya.

Baca Juga: Hantu Jahil Jembatan Gantung Sukoharjo; Wouw, Kisah Mistisnya Serem

Bangunan tua bersejarah jauh dari pemukiman warga ini, berada di puncak Bukit Patrum, Dusun Mojopereng, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Beberapa warga setempat membenarkan, bangunan berdinding tembok yang hingga kini masih berdiri tegak dan kokoh, memang bukan bekas tempat tinggal atau rumah hunian warga.  

“Bangunan bersejarah, peninggalan jaman penjajahan Belanda. Menurut kakek dan nenek kami, dulu diperuntukkan menyimpan ‘dinamit’ (bahan dan peralatan peledak) pemecah batuan kapur,” kata  Hardi, 73 tahun.

Baca Juga: Klaten Darurat Banjir, Ratusan Warga di 8 Kecamatan Diungsikan

Warga Dusun Mojo Pereng itu juga menjelaskan, semasa penjajahan Belanda Bukit Patrum dijadikan pusat penambangan batu kapur. Selain dijadikan bahan bangunan, batu kapur dimanfaatkan juga untuk pengolahan tebu di Pabrik Gula (PG) Gondang Winangun, dalam sejarah tertulis berdiri sejak tahun 1860.

Untuk lebih mempermudah dan mempercepat proses menambang batu kapur, Belanda menggunakan peralatan dan bahan peledak, masyarakat setempat menyebutnya ‘dinamit’.

Sebagai sarana mengangkut batu kapur hasil tambang ke pabrik gula, Belanda membangun jalur rel locomotif yang menghubungkan Bukit Patrum – PG Gondangwinangun.

Baca Juga: Gerabah Bayat; Inilah Gaya Muter Miring Penggaet Guru Besar University Jepang

“Hingga tahun 1980-an rel jalur lokomatif itu masih utuh, bahkan masih sering dilintasi lori  (lokomotif) pengangkut tebu dari Desa Krakitan dan sekitarnya ke PG Gondangwinangun,” cerita Hardi meyakinkan.

Dijelaskan juga, semasa dia masih berusia anak-anak bangunan tempat menyimpan ‘dinamit’ di atas bukit Patrum ada dua. Perkembangan selanjutnya, warga setempat banyak menambang batu kapur secara manual.

Selain kian lama makin menggerogiti ketinggian bukit kapur, juga menghilangkan salah satu bangunan di atas Bukit Patrum, di jaman penjajahan dulu digunakan menyimpan ‘dinamit’.

Baca Juga: KGPH Purbaya Putra Mahkota Keraton Surakarta, Inilah Profil dan Rekam Jejaknya

Sangat dimungkinkan, rumah kecil yang ada sampai saat ini diyakini dihuni makluk tidak kasat mata. Hingga para penambang batu kapur tak berani mengusiknya, mereka hanya berani mengambil batu-batu kapur di seputarannya.

“Hingga menyisakan rumah di atas bukit yang terpisah dari bukit lainnya. Lokasi pun jadi curam dan cekungan. Sebagaimana yang terlihat sampai saat ini,” kata Hardi menambahkan.

Ditemui secara terpisah, Kepala Desa Krakitan, Kecamatan Bayat menjelaskan, bangunan berukuran 2 x 2 meter tersebut rumah atau tempat penyimpanan ‘dinamit’ di era penjajahan Belanda, bukan rumah demit (tempat hantu).

Baca Juga: Primbon Sabtu Kliwon; Sering Terpancing Emosi, Ini Peredanya

Untuk menghilangkan kesan menyeramkan itulah, sejak tahun 2018 pihaknya menjadikannya sebagai destinasi wisata. Diakui juga, selain keragaman keunikan dan eksotiknya panorama alam, pengunjung juga sangat tertarik karena ikon sebagai omah demit yang telah melegenda.

“Agar lebih menarik wisatawan, kami telah memberikan tangga untuk naik ke seputar bukit hingga sampai samping rumah ‘dinamit tadi,” kata Nurdin, Kades Krakitan. ***

Editor: Kustawa Esye


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah